Monday, October 1, 2007

SANG PEJUANG

Jis se jigar-i-lala me thandak ho who shabnam Daryaan
ke dil jis se dabel jaen who toofan *)

Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily,
dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai

Membuncah menerjang sekat kejahiliyahan
Menoreh goresan pedang penuh sayat kemenangan

Menderu langkah mujahid tanpa kemusykilan
Menuju puncak kemuliaan dan keridhoanNya

Dalam kanvas cinta kepadaNya
Membingkai pribadi Rijalud dakwah
Tangguh, kuat, berkarakter

Oh alangkah indahnya
Pabila diri ini sepertinya
Kafilah dakwah pemburu syahid

Oh alangkah senangnya
Pabila jiwa ini bergabung dengannya
Taman orang perindu surga

*) Syair dari seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India untuk menggambarkan kepahlawanan sejati salah satu penakluk terbesar dan penegak agama Islam yaitu khalifah Umar bin Khattab.

Dzahaban Naas Wa Baqiyan Nasnaas

Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas *)

Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera
Makhluk tak tahu diri temannya syetan
Makhluk tak tahu malu sahabatnya syetan
Itu yang syetan akui

Ah berani sekali si syetan
Telanjang di depan manusia
Bukan, bukan manusia tapi kera
Itu yang syetan akui

Telah hilang manusia
Menjadi hewan yang hina dan nista
Bahkan lebih daripada si syetan
Itu yang syetan akui

Ah aku malu
Manusia tanpa kemanusiaan
Manusia tanpa kemuliaan
Menjadi temannya syetan
Menjadi sahabatnya syetan

Manusia yang bukan manusia
Sadarkah kau?

*) Inspirasi dari Ihya’ Ulumuddin.
Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`, Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas (Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera).