> Lanjutan lingkaran kecilku episode 1
…………………………………………………………………………………………………………………
Kembali anganku melayang jauh menembus batas waktu yang telah kulalui. Memutar kembali memori otakku yang telah menyimpan berjuta kenangan indah tentang tarbiyah. Tentang lingkaran kecilku yang menjadi tempat awal aku menempa diri. Tempat mengasah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ada luapan perasaan yang tak mampu kuredam. Ya mengingat betapa indahnya perjalanan yang telah aku lalui. Meski baru setapak langkah kaki kuayunkan, meski baru sejengkal tanah kutapaki. Karena aku baru memulai perjalanan dakwah yang sesungguhnya. Tapi lingkaran kecilku senantiasa membekas. Membekas dalam perjalanan dakwah yang baru aku mulai dan akan terus kulalui. Lingkaran kecilku telah membulat menyatu dalam tubuhku. Menyatu dalam setiap sikap, tingkah laku dan aktivitas kehidupanku. Mengapa? Karena lingkaran kecilku telah mengajarkanku banyak hal. Karena lingkaran kecilku telah membimbingku dan menunjukkanku ke jalan-Nya. Karena lingkaran kecilku telah membinaku untuk menjadi pribadi muslim yang sholeh. Dan insya Alloh, semua itu akan terus dan terus berjalan.
Mengingat kembali betapa banyak yang telah kulalui bersama lingkaran kecilku, aku masih terus memutar memori otakku. Saat-saat indah ketika aku berusaha mendapatkan banyak hal tentang hakekat hidupku sebagai seorang muslim. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang faham, aku memaknainya dengan berusaha mengerti Islam dan segala sesuatu yang aku jalani atas namanya. Kebanggaanku hanyalah karena kemuliaan dan kejayaannya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ikhlas, aku mengartikannya dengan selalu berusaha memotivasi diriku untuk terus berkarya dan memberikan setiap inchi tubuhku hanya dan hanya untukNya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang amal, maka aku menerjemahkannya dengan berusaha memberikan kontribusi terbaikku demi kejayaan ummat yang (semoga) lebih kucintai dari diriku ini. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang jihad, akupun berusaha bersungguh-sungguh dalam setiap medan perjuangan yang harus aku lalui. Tak kupedulikan ocehan durjana yang selalu merayuku untuk mengikutinya. Tidak juga letih tubuh ini yang selalu menggodaku untuk berhenti. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taat, maka tiada lain yang menjadi pedomanku selain Al Qur’an dan As Sunnah. Tandzim menjadi aplikasi ketaatanku pada orang-orang bertaqwa yang tertata demi kelurusan shaff barisan perjuangan suci tuk gapai sebuah cita. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taddhiyah, maka akupun berusaha memberikan segala yang kupunya. Aku yakin, segala yang di sisiku hanyalah sesuatu yang fana, dan akan mulia ketika kuserahkan semuanya kepada Robb Semesta. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsabat, maka aku mengamalkannya dengan berusaha tegar terhadap segala aral menghadang. Aku yakin, tiada perjuangan yang tidak “menyakitkan”. Dan hanya istiqomah-lah, sikap terbaik untuk selalu siap menghadapinya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tajarrud, maka aku ingin semua titik potensiku kupersembahkan untuk da’wah ini. Aku yakin bahwa sesungguhnya aku adalah da’i sebelum predikat apapun yang melekat pada diriku. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsiqoh, maka aku berusaha mengesampingkan setiap prasangka yang senantiasa menusuk pikiranku. Kubalut sikap percayaku dengan iman suci penuh keyakinan pada Allah, Rasul, Islam, dan qiyadah da’wah yang bertaqwa. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ukhuwah, akupun belajar untuk berbagi dengan saudara-saudaraku dan mengikat hati dalam tautan cinta untuk taat kepadaNya. Semoga Allah menghimpun hati para da’i dalam cinta-Nya, yang berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalanNya, dan saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.
Itulah lingkaran kecilku. Lingkaran yang selalu memberi inspirasi bagiku. Lingkaran yang tak pernah berhenti membawaku berkelana menyusuri lorong-lorong gelap kehidupan menuju cahaya Alloh yang selalu menerangi kehidupanku. Lingkaran yang telah menempatkanku pada komunitas orang-orang sholeh yang berkomitmen untuk memperbaiki diri dan berkontribusi dalam setiap kebaikan. Lingkaran yang telah menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan hidupku, Muhammad sebagai panutan langkahku, Qur’an menjadi panduan gerakku, jihad dan syahid tak ayal menjadi jalan dan cita tertinggiku. Semoga Alloh merahmati orang-orang yang berhimpun dalam kecintaan kepadaNya, dan menjadikan diri ini bagian dari khalifah para penghuni surga abadiNya.
Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala diinika wa tho’atika
Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala da’watika fii sabiilika
…………………………………………………………………………………………………………………
Kembali anganku melayang jauh menembus batas waktu yang telah kulalui. Memutar kembali memori otakku yang telah menyimpan berjuta kenangan indah tentang tarbiyah. Tentang lingkaran kecilku yang menjadi tempat awal aku menempa diri. Tempat mengasah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ada luapan perasaan yang tak mampu kuredam. Ya mengingat betapa indahnya perjalanan yang telah aku lalui. Meski baru setapak langkah kaki kuayunkan, meski baru sejengkal tanah kutapaki. Karena aku baru memulai perjalanan dakwah yang sesungguhnya. Tapi lingkaran kecilku senantiasa membekas. Membekas dalam perjalanan dakwah yang baru aku mulai dan akan terus kulalui. Lingkaran kecilku telah membulat menyatu dalam tubuhku. Menyatu dalam setiap sikap, tingkah laku dan aktivitas kehidupanku. Mengapa? Karena lingkaran kecilku telah mengajarkanku banyak hal. Karena lingkaran kecilku telah membimbingku dan menunjukkanku ke jalan-Nya. Karena lingkaran kecilku telah membinaku untuk menjadi pribadi muslim yang sholeh. Dan insya Alloh, semua itu akan terus dan terus berjalan.
Mengingat kembali betapa banyak yang telah kulalui bersama lingkaran kecilku, aku masih terus memutar memori otakku. Saat-saat indah ketika aku berusaha mendapatkan banyak hal tentang hakekat hidupku sebagai seorang muslim. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang faham, aku memaknainya dengan berusaha mengerti Islam dan segala sesuatu yang aku jalani atas namanya. Kebanggaanku hanyalah karena kemuliaan dan kejayaannya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ikhlas, aku mengartikannya dengan selalu berusaha memotivasi diriku untuk terus berkarya dan memberikan setiap inchi tubuhku hanya dan hanya untukNya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang amal, maka aku menerjemahkannya dengan berusaha memberikan kontribusi terbaikku demi kejayaan ummat yang (semoga) lebih kucintai dari diriku ini. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang jihad, akupun berusaha bersungguh-sungguh dalam setiap medan perjuangan yang harus aku lalui. Tak kupedulikan ocehan durjana yang selalu merayuku untuk mengikutinya. Tidak juga letih tubuh ini yang selalu menggodaku untuk berhenti. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taat, maka tiada lain yang menjadi pedomanku selain Al Qur’an dan As Sunnah. Tandzim menjadi aplikasi ketaatanku pada orang-orang bertaqwa yang tertata demi kelurusan shaff barisan perjuangan suci tuk gapai sebuah cita. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taddhiyah, maka akupun berusaha memberikan segala yang kupunya. Aku yakin, segala yang di sisiku hanyalah sesuatu yang fana, dan akan mulia ketika kuserahkan semuanya kepada Robb Semesta. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsabat, maka aku mengamalkannya dengan berusaha tegar terhadap segala aral menghadang. Aku yakin, tiada perjuangan yang tidak “menyakitkan”. Dan hanya istiqomah-lah, sikap terbaik untuk selalu siap menghadapinya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tajarrud, maka aku ingin semua titik potensiku kupersembahkan untuk da’wah ini. Aku yakin bahwa sesungguhnya aku adalah da’i sebelum predikat apapun yang melekat pada diriku. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsiqoh, maka aku berusaha mengesampingkan setiap prasangka yang senantiasa menusuk pikiranku. Kubalut sikap percayaku dengan iman suci penuh keyakinan pada Allah, Rasul, Islam, dan qiyadah da’wah yang bertaqwa. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ukhuwah, akupun belajar untuk berbagi dengan saudara-saudaraku dan mengikat hati dalam tautan cinta untuk taat kepadaNya. Semoga Allah menghimpun hati para da’i dalam cinta-Nya, yang berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalanNya, dan saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.
Itulah lingkaran kecilku. Lingkaran yang selalu memberi inspirasi bagiku. Lingkaran yang tak pernah berhenti membawaku berkelana menyusuri lorong-lorong gelap kehidupan menuju cahaya Alloh yang selalu menerangi kehidupanku. Lingkaran yang telah menempatkanku pada komunitas orang-orang sholeh yang berkomitmen untuk memperbaiki diri dan berkontribusi dalam setiap kebaikan. Lingkaran yang telah menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan hidupku, Muhammad sebagai panutan langkahku, Qur’an menjadi panduan gerakku, jihad dan syahid tak ayal menjadi jalan dan cita tertinggiku. Semoga Alloh merahmati orang-orang yang berhimpun dalam kecintaan kepadaNya, dan menjadikan diri ini bagian dari khalifah para penghuni surga abadiNya.
Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala diinika wa tho’atika
Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala da’watika fii sabiilika
Ar Ruhul Jadid, 25 July 2007
Di Pengasingan, Masih Dalam Perjuangan
Di Pengasingan, Masih Dalam Perjuangan


No comments:
Post a Comment