Sejenak kuajak angan ini menelusuri jejak petualangan selama kurang lebih tiga tahun di kampus ini. Ribuan prasasti yang terukir indah berdiri kokoh di sepanjang jalan mengabadikan setiap langkahku dalam eksotisme gerak perjuangan yang kulalui. Ingin aku memungut prasasti-prasasti itu dan melukiskannya di sini, tapi entah mengapa otakku mempengaruhi jemariku sehingga kelu untuk melakukannya. Seakan ada satu kekuatan yang menyuruhku untuk membiarkan mereka menjadi kenangan manis yang hanya aku yang bisa menikmatinya. Akupun berusaha mengajak anganku untuk kembali bergerak menyusuri jalan yang tak mampu lagi terekam oleh minimnya kapasitas memoriku. Sampai akhirnya di penghujung jalan anganku menerawang jauh menembus batas, terlihat sebuah tonggak yang merupakan pangkal dari semua petualangan selama ini. Sebuah tonggak yang aku ingat selalu menjadi awal pijakan kakiku dalam melangkah. Tonggak kokoh dengan warna keemasan yang disebut : “Tarbiyah”.
Terus terang, aku selalu kesulitan memaknai kata ‘tarbiyah’ karena ia lebih dari sekedar ‘pendidikan’ seperti arti harfiahnya. Seni Membentuk Manusia (Fannu tasykiilil insaan), mungkin itu kata yang tepat untuk mengartikan tarbiyah sebagaimana ditulis oleh Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah. Tidak berlebihan memang. Pembentukan akal, hati, dan badan manusia bersama tarbiyah semakin hari semakin menampakkan hasil yang cukup menggembirakan meskipun bukan berarti tidak ada yang harus diperbaiki bersama. Termasuk tarbiyah di Kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang aku rasakan. Sebuah usaha untuk membentuk kader militan yang diharapkan kontribusinya dalam dakwah di negeri ini. Meskipun banyak komentar miring bermunculan yang menyebut kader Polines adalah kader karbitan, kader akselerasi, kader premature, atau kader yang terlalu jumud, tapi toh kader-kader karbitan yang premature dan jumud itu –dengan izin Alloh- akan membuktikan diri mereka sebagai ujung tombak da’wah di pelosok nusantara. Yah insya Alloh.
Tarbiyahku dimulai dari sebuah lingkaran kecil yang muncul tiap pekan sekali dengan berbagai bentuk keistimewaan yang selalu silih berganti. Tapi aku juga mengenal tarbiyah jauh lebih dari sekedar lingkaran kecil itu. Tarbiyah bagiku adalah gabungan dari madah yang kudapat, dan aplikasi yang coba kuterapkan dalam keseharianku. Tapi tetap saja, lingkaran kecil menjadi awal dari setiap langkahku. Lingkaran kecil bagiku adalah stimulus yang “memaksaku” untuk terus bergerak seiring kerasnya persaingan pembangunan peradaban umat ini. Lingkaran kecil bagiku adalah imun yang melindungiku dari virus-virus kemaksiatan yang selalu siap menjerumuskanku ke dalam lubang kesesatan yang -kadang- aku sendiri tak tahu di mana jalan kesesatan itu. Lingkaran kecil bagiku adalah sumber perbekalan yang memberiku kekuatan untuk terus bertahan mengarungi medan perjuangan yang sering kali terasa amat melelahkan. Yup, lingkaran kecilku telah memberiku banyak pelajaran tentang arti kehidupan ini. Dan meskipun dengan tertatih, aku selalu ingin berusaha membenamkan setiap pelajaran itu dalam setiap jejak kehidupanku. Seberat apa pun, sesulit apa pun, sepanjang apa pun, goresan tabiyah akan selalu tertulis, terpatri dan tertancap dalam setiap langkahku. Langkah di jalan dakwah untuk menyatu dengan barisan para mujahid yang berjuang menegakkan izzah Islam. Dan diri ini senantiasa berharap menjadi bagian dari kemenangan dakwah Islam.
Meski tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Dan hanya kepada Alloh-lah kita kembali. Semoga tetap dalam naungan tarbiyah Islamiyah. Semoga tetap istiqomah di jalan-Nya. Semoga tetap bertahan dalam menapaki kerasnya perjuangan dakwah. Dan yang paling aku harapkan……… semoga menjadi hambanya yang akan mencium wanginya surga.
………………………………………………………………………………………………………………………
(Inspirasi dari Seorang Ikhwah)
> Bersambung ke lingkaran kecilku episode 2
Tarbiyahku dimulai dari sebuah lingkaran kecil yang muncul tiap pekan sekali dengan berbagai bentuk keistimewaan yang selalu silih berganti. Tapi aku juga mengenal tarbiyah jauh lebih dari sekedar lingkaran kecil itu. Tarbiyah bagiku adalah gabungan dari madah yang kudapat, dan aplikasi yang coba kuterapkan dalam keseharianku. Tapi tetap saja, lingkaran kecil menjadi awal dari setiap langkahku. Lingkaran kecil bagiku adalah stimulus yang “memaksaku” untuk terus bergerak seiring kerasnya persaingan pembangunan peradaban umat ini. Lingkaran kecil bagiku adalah imun yang melindungiku dari virus-virus kemaksiatan yang selalu siap menjerumuskanku ke dalam lubang kesesatan yang -kadang- aku sendiri tak tahu di mana jalan kesesatan itu. Lingkaran kecil bagiku adalah sumber perbekalan yang memberiku kekuatan untuk terus bertahan mengarungi medan perjuangan yang sering kali terasa amat melelahkan. Yup, lingkaran kecilku telah memberiku banyak pelajaran tentang arti kehidupan ini. Dan meskipun dengan tertatih, aku selalu ingin berusaha membenamkan setiap pelajaran itu dalam setiap jejak kehidupanku. Seberat apa pun, sesulit apa pun, sepanjang apa pun, goresan tabiyah akan selalu tertulis, terpatri dan tertancap dalam setiap langkahku. Langkah di jalan dakwah untuk menyatu dengan barisan para mujahid yang berjuang menegakkan izzah Islam. Dan diri ini senantiasa berharap menjadi bagian dari kemenangan dakwah Islam.
Meski tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Dan hanya kepada Alloh-lah kita kembali. Semoga tetap dalam naungan tarbiyah Islamiyah. Semoga tetap istiqomah di jalan-Nya. Semoga tetap bertahan dalam menapaki kerasnya perjuangan dakwah. Dan yang paling aku harapkan……… semoga menjadi hambanya yang akan mencium wanginya surga.
………………………………………………………………………………………………………………………
(Inspirasi dari Seorang Ikhwah)
> Bersambung ke lingkaran kecilku episode 2
Ar Ruhul Jadid, 24 July 2007
Berjuang Menghadapi Kelulusan
Di saat Hari Lahirku
Berjuang Menghadapi Kelulusan
Di saat Hari Lahirku


No comments:
Post a Comment