“Akhi, kita hanya manusia biasa. Keimanan itu yazidu wa yanqus (naik dan turun). Tinggal bagaimana memanaj keimanan kita dan jangan berlama-lama dengan kefuturan. Subhanalloh ketika kita rapuh tapi tidak terlihat. Itu cukup membuktikan klo kita tidak pantang menyerah walaupun kondisi kita sedang lemah. Perbanyak tilawah jika memang hati sedang gundah. Sempatkan diri untuk refreshing (baca majalah/rihlah). Tawazun memang tuntutan aktivitas. Kuncinya manajemen waktu"
Kata-kata itu mampir di layar HP Sony Ericson butut saya setelah ”curhat” dengan seseorang kalau ruhiyah saya terasa kering beberapa pekan yang lalu. Penurunan ruhiyah yang ditandai dengan adanya perasaan jenuh dan bosan dengan rutinitas yang saya jalani. Juga penurunan semangat untuk melaksanakan amalan harian yang telah menjadi standar. Curhatan saya ternyata dibalas dengan kata-kata yang begitu menghujam bagi saya. Hiks, hiks, hiks….. (lho kok malah...)
Ya, kadang kita mencari seribu satu alasan untuk kekurangan-kekurangan yang hinggap pada diri kita. Sering juga kita melakukan pembelaan-pembelaan dan alibi ketika kita melakukan kesalahan. Ataupun hal lain untuk menutupi kondisi yang sedang kita alami. Seperti yang waktu saya alami, merasa jenuh dan bosan dengan rutinitas dan aktivitas yang kujalani. Setiap kegiatan terasa kosong, tidak membekas. Terasa tidak berarti apa-apa. Entah karena apa, yang pasti saya merasa lemah semangat, lemah jiwa, lemah keinginan, dan perasaan yang lain. Yah manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi jangan sampai kita terus berbuat kesalahan. Meskipun itu adalah kesalahan yang kecil. Karena sebenarnya tidak ada kesalahan yang kecil bagi seorang muslim. Seperti kata Imam Syafi’i, ”Jangan lihat kecilnya dosa yang kita lakukan. Tapi lihat, betapa Agung dan Besarnya Dzat yang kita lawan!”
Allohu Akbar! Betapa beraninya kita apabila melakukan maksiat di depanNya! Yup, kita tidak akan pernah bisa membelakangi Alloh. Tidak akan mungkin bisa bersembunyi dari pengamatanNya. Astaghfirullahal’adziim...
Kembali ke masalah ruhiyah saya yang jeblok (eh, bukan jeblok, kering malahan) beberapa pekan lalu. Seringkali pembelaan-pembelaan itu muncul. Berbagai alasan muncul mensugesti agar tidak segera bangkit. Alasan lingkungan, kader, banyak masalah, membuat saya berpikir, ”Saya merasa bosan dan jenuh. Wajar lah kalau kondisi saya seperti ini. Masih mending gak ancur-ancur amat.” Walah!
Ya, tapi bagaimanapun juga pembelaan dan alasan itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Jangan sampai kita berlama-lama dengan kondisi kefuturan. Segera perbaiki ruhiyah kita. Seperti yang dicontohkan oleh Rosul dan para sahabat, betapa berat dan padat aktivitas mereka, tetapi mereka tetap menjadikan kekuatan ruhiyah sebagai bekal utama perjuangan mereka.
”Jadilah engkau seperti rahib-rahib di malam hari, dan jadilah engkau bagaikan singa di siang hari”
Yup, doakan saya agar bisa segera bangkit ya? Hare gene masih futur...?
Kata-kata itu mampir di layar HP Sony Ericson butut saya setelah ”curhat” dengan seseorang kalau ruhiyah saya terasa kering beberapa pekan yang lalu. Penurunan ruhiyah yang ditandai dengan adanya perasaan jenuh dan bosan dengan rutinitas yang saya jalani. Juga penurunan semangat untuk melaksanakan amalan harian yang telah menjadi standar. Curhatan saya ternyata dibalas dengan kata-kata yang begitu menghujam bagi saya. Hiks, hiks, hiks….. (lho kok malah...)
Ya, kadang kita mencari seribu satu alasan untuk kekurangan-kekurangan yang hinggap pada diri kita. Sering juga kita melakukan pembelaan-pembelaan dan alibi ketika kita melakukan kesalahan. Ataupun hal lain untuk menutupi kondisi yang sedang kita alami. Seperti yang waktu saya alami, merasa jenuh dan bosan dengan rutinitas dan aktivitas yang kujalani. Setiap kegiatan terasa kosong, tidak membekas. Terasa tidak berarti apa-apa. Entah karena apa, yang pasti saya merasa lemah semangat, lemah jiwa, lemah keinginan, dan perasaan yang lain. Yah manusia memang tidak ada yang sempurna, tetapi jangan sampai kita terus berbuat kesalahan. Meskipun itu adalah kesalahan yang kecil. Karena sebenarnya tidak ada kesalahan yang kecil bagi seorang muslim. Seperti kata Imam Syafi’i, ”Jangan lihat kecilnya dosa yang kita lakukan. Tapi lihat, betapa Agung dan Besarnya Dzat yang kita lawan!”
Allohu Akbar! Betapa beraninya kita apabila melakukan maksiat di depanNya! Yup, kita tidak akan pernah bisa membelakangi Alloh. Tidak akan mungkin bisa bersembunyi dari pengamatanNya. Astaghfirullahal’adziim...
Kembali ke masalah ruhiyah saya yang jeblok (eh, bukan jeblok, kering malahan) beberapa pekan lalu. Seringkali pembelaan-pembelaan itu muncul. Berbagai alasan muncul mensugesti agar tidak segera bangkit. Alasan lingkungan, kader, banyak masalah, membuat saya berpikir, ”Saya merasa bosan dan jenuh. Wajar lah kalau kondisi saya seperti ini. Masih mending gak ancur-ancur amat.” Walah!
Ya, tapi bagaimanapun juga pembelaan dan alasan itu sama sekali tidak bisa dibenarkan. Jangan sampai kita berlama-lama dengan kondisi kefuturan. Segera perbaiki ruhiyah kita. Seperti yang dicontohkan oleh Rosul dan para sahabat, betapa berat dan padat aktivitas mereka, tetapi mereka tetap menjadikan kekuatan ruhiyah sebagai bekal utama perjuangan mereka.
”Jadilah engkau seperti rahib-rahib di malam hari, dan jadilah engkau bagaikan singa di siang hari”
Yup, doakan saya agar bisa segera bangkit ya? Hare gene masih futur...?


No comments:
Post a Comment