Monday, October 1, 2007

SANG PEJUANG

Jis se jigar-i-lala me thandak ho who shabnam Daryaan
ke dil jis se dabel jaen who toofan *)

Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily,
dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai

Membuncah menerjang sekat kejahiliyahan
Menoreh goresan pedang penuh sayat kemenangan

Menderu langkah mujahid tanpa kemusykilan
Menuju puncak kemuliaan dan keridhoanNya

Dalam kanvas cinta kepadaNya
Membingkai pribadi Rijalud dakwah
Tangguh, kuat, berkarakter

Oh alangkah indahnya
Pabila diri ini sepertinya
Kafilah dakwah pemburu syahid

Oh alangkah senangnya
Pabila jiwa ini bergabung dengannya
Taman orang perindu surga

*) Syair dari seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India untuk menggambarkan kepahlawanan sejati salah satu penakluk terbesar dan penegak agama Islam yaitu khalifah Umar bin Khattab.

Dzahaban Naas Wa Baqiyan Nasnaas

Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas *)

Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera
Makhluk tak tahu diri temannya syetan
Makhluk tak tahu malu sahabatnya syetan
Itu yang syetan akui

Ah berani sekali si syetan
Telanjang di depan manusia
Bukan, bukan manusia tapi kera
Itu yang syetan akui

Telah hilang manusia
Menjadi hewan yang hina dan nista
Bahkan lebih daripada si syetan
Itu yang syetan akui

Ah aku malu
Manusia tanpa kemanusiaan
Manusia tanpa kemuliaan
Menjadi temannya syetan
Menjadi sahabatnya syetan

Manusia yang bukan manusia
Sadarkah kau?

*) Inspirasi dari Ihya’ Ulumuddin.
Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`, Dzahaban naas wa baqiyan nasnaas (Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera).

Saturday, September 8, 2007

...RENUNGAN...

Kadangkala Alloh hilangkan mentari…
Kemudian dia datangkan guruh…
Puas kita menangis…
Mencari mana mentari kita…
Rupa-rupanya Alloh hadiahkan kita…
Pelangi yang indah…

Sabarlah wahai insan…
Ada kemanisan dibalik kepahitan ini…
Ada kemudahan dibalik kesulitan ini…

Kita tak pernah tahu
Dan tak akan tahu
Anugerah apalagi yang akan Alloh berikan
Rizki mana lagi yang Alloh kasih
Maka nikmat manakah yang kan kau dustakan?

(to be continued...)

Wednesday, August 29, 2007

....KEMBALI BERSUA....

Kembali bersua. Ya melanjutkan perjalanan goresan ini yang semakin mengalir. Menuangkan pikiran2 yang membuncah dalam memoriku. Setelah bergelut dengan kesibukan yang banyak menyita waktu, akhirnya aku bisa juga menggerakkan jari jemariku menuntun memencet tombol keyboard komputer dengan ringannya. Meski kesibukan, kepenatan dan kelelahan masih terus memenuhi tubuh yang kurus ini. Tetapi selaksa cinta, embun penyejuk dan semangat masih tetap mengiringi perjalanan ini. Ehm mulai dari mana ya? Langsung aja ya? Sebentar lagi temen2 dah pada lulus. Yang pasti satu babak telah kita selesaikan. Kita akan memulai babak baru lagi. Tapi yang menjadi pembahasan seru temen2 adalah when is your married? Ups! lho kok? Belum apa2 kok sudah mikirin itu. Begitu kata para senior. Emang apanya yang salah? Toh kita juga udah pada dewasa. Meski yang namanya menikah memang butuh persiapan yang matang. Karena menikah tidak hanya sebatas menyempurnakan separuh dien ini. Yang pasti kita memang sudah harus membuat planning ke arah itu. Wajar kan? Bahkan sudah seharusnya. Jadi lucu juga rasanya. Semua temen pada kompak ngebahas yang satu ini. Apalagi lingkungan n suasana mendukung banget. Maksudnya? Entah kebetulan ato tidak. Tapi kita disini lagi dimanjakan sama serunya masalah ini. Ikut kajian di masjid tentang nikah. Ikut kajian anak rohis tentang nikah. Pelatihan n seminar2 yang ada pun juga tentang nikah. Bahkan agenda liqo’ pun ngebahas hal ini. Murobbi aja ikut ngompor-ngompori. Beliau dengan asyiknya cerita tentang proses pernikahannya, so jadi banyak motivasi bagi kita nih. Wuih jadi bingung? Bingung nentuin kapan segera nikahnya men! He2. Jadi pengen cepet lulus, trus cari kerja n nikah. Tapi dibuat santai aja ya? Jangan jadi beban. OK. Gimana dengan antum semua? Ayo buruan. Bukankah ini adalah ibadah. Mari berlomba-lomba dalam amal kebajikan. Tetapi senantiasa ingat kehidupan ini tidak bisa kita kalkulasi. Manusia hanya bisa merencanakan, Alloh yang menentukan. Wallohu'alam bis showab.

Saturday, August 25, 2007

UNTUK KEMBALI (SUCI)

Sesekali terjaga dari alpa yang panjang
Pabila langit tak selalu cerah
Ombak menghempas resah
Bangunlah
Di ujung sana mungkin ketemu
Hidup yang indah

Sesekali teringat dari lupa yang sangat
Pabila pagi tak lagi tiba
Senja tak kunjung datang
Sadarlah
Di ujung waktu mungkin ketemu
Duka yang dalam

Jiwa ini hanya mampu menangis
Nokta hitam memenuhi ruang
Bagai mengiris perih
Serasa menikam tajam
Kemanakah bermuara?

Selaksa embun cinta tlah hilang
Jiwaku melayang
Semua tampak buram
Di antara persimpangan
Kemanakah bermuara?

Dalam kekalutan hati
Menjerit tangis mengurai duka
Membuncah pedih menjerat tawa

Oh tidak
Dosa mengantarkan
Noda menjerumuskan
Maksiat menarik
Jauh, dalam
Ke lembah terkutuk

Semakin jauh, semakin tenggelam

Dalam kekalutan hati
Menjerit tangis mengurai duka
Membuncah pedih menjerat tawa

Jiwaku tersadar
Semua tampak hilang
Ternyata masih dalam lindungan
Masih ada harapan
Untuk kembali (suci)
Demi dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya



Darul Hikmah, 24 Agustus 2007

.....KEMBALI AKU KECEWA.....

Kembali aku kecewa
Menapak jalan yang terjal
Memikul beban yang besar
Memeras peluh dan tenaga
Tapi semuanya …………….???

Kembali aku kecewa
Meretas kemenangan
Menyebar kebenaran
Hanya demi satu tujuan
Tapi semuanya…………….???

Kembali aku kecewa
Indahnya masih merona
Nikmatnya tetap terasa
Tautan cinta dalam jamaah
Tapi semuanya…………….???

Kenapa mereka diam tak bersua
Kenapa mereka dingin tak bergerak
Bagai daun diterpa angin tapi tak bergoyah
Membisu tanpa nyawa penuh keanehan
Apakah benar memenjarakan kekakuan?
Ketakutan? Kebodohan? ketidakmampuan?

Bodoh, bodoh
Lucu, lucu
Setan tertawa mengejek
Iblis tersenyum penuh kemenangan
Malaikat bermuka kecut
Sedangkan aku? masih bingung dengan semuanya

Tetapi lirihku mengucap
“Ya Robb, ampuni kami……”
“Ya Robb, berikan kesadaran kepada kami……”



Darul Hikmah, 23 Agustus 2007

Wednesday, August 15, 2007

"MEMBUMI....."

Engkau masih diam
Ketika yang lain mengejar asa
Ketika mereka melawan beban
Ketika dia menanti juang

Engkau masih diam
Saat raga mulai kering
Batin terasa bersih
Tanpa siraman

Mengapa?
Amanah kau bumikan
Beban kau bumikan
Asa kau bumikan
Azzam kau bumikan

Terasa ringan kau centang tangan
Terasa mudah kau lepas muka
Serasa kau sudah memenangkan
Serasa kau telah meninggikannya

Masihkah engkau membumi?
Tetapkah engkau membumi?
Maukah engkau hanya bisa membumi?

Terasa karat-karat jahil masih menetap
Terasa nafas-nafas syetan masih memburu
Serasa dalam kepatutan dosa
Serasa dalam kelayakan noda
Bergumul, membuih, dan memuncak

Masihkah tetap membumi?


Darul Hikmah, 15 Agustus 2007

Sunday, August 5, 2007

BERAPA LAMA KITA DIKUBUR

Semoga bermanfaat dalam menjalani sisa umur kita yang semakin pendek setiap detiknya.....
Berapa lama kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalan. Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim. Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkeram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan 'Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965'. "Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya. "Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun ... " Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut 'Muhammad Zaini: 19-02- 1882 : 30-01-1910'.

"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka " kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?" Ayahnya tersenyum, "Lalu?", "Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur .... ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya . 36 tahun ... hingga sekarang...kalau kiamat datang 100 tahun lagi .136 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur .... Lalu ia menunduk ... meneteskan air mata . Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya ... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna Ilaihi rooji'un ... air matanya semakin banyak menetes.....Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah ...ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya ..... Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak ... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani. Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur .tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti sebuah kehidupan... dan apa yang akan datang di depannya...

Sebarkan artikel ini ke saudara-saudara kita, mudah-mudahan bermanfaat

"Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada beramal" (Ali bin Abi Thalib)

INGATLAH KEMATIAN II: "ADA APA DENGAN MAYAT"

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...Terdengarla h Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia YangMeninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu.. ...
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan.. ..Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...

Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah Mana Lisanmu
Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara....
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"

Ketika Mayat Siap Dikafan...Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah Wahai Fulan Anak Si Fulan...

Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal ,
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya... ........
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika MayatDiusung. ... Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan ,

Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan. ...Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan
Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika MayatDibaringkan Di Liang Lahat..terdengar Suara Memekik Dari Langit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan
Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan...


Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika SemuaManusia Meninggalkannya Sendirian... .Allah Berkata Kepadanya,
"Wahai Hamba-Ku.... . Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku

Hari Ini,..
Akan Kutunjukan Kepadamu kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku
Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman,
"Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda
Kenal...!!!Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita
dalam menjalani hidup ini.

Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah haditsnya yang lain, beliau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!

Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin....

INGATLAH KEMATIAN I: "SIAPKAH KITA?"

Assalamu'alaikum wr wb

Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk kuliah, ataupun bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...

Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini.

Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan. Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita???

Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,
berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya.


INFORMASI PENERBANGAN GRATIS
AL-JENAZAH AIRLINES, LAYANAN PENUH 24 JAM

Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah negara.
Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan,
tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist.
Di mana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines,
atau US Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.
Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg,
tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.

Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.
Di mana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci.
Di mana passport kita bukan Indonesia, British atau American, tetapi Al-Islam.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi 'Laailaahaillallah'
Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.
Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.

Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport
atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.
Di mana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi
ruang 2x1 meter, gelap gulita.
Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa.

Apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Di mana tidak perlu satpam dan alat detector.
Di mana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah
Di mana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya
atau Neraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang.

Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan
masalah alergi atau halal haram makanan.
Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya,
ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.
Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, anda telah hilang selera bersuka ria.
Jangan bimbang tentang pembelian tiket, ianya telah siap di booking sejak
anda ditiupkan ruh di dalam rahim ibu.

YA! BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa 'Pemberitahuan' .
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan. ...

Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah,
atau ungkapan selamat jalan.
Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun....
Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.

ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan
kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya. '

ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga...
Amiin WALLAHU A'LAM

Catatan:
Penerbangan ini berlaku untuk segala umur...tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini.....sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.

Friday, August 3, 2007

ROHISKU SAYANG, JANGANLAH MALANG

Disaat ratusan juta orang bertarung melawan kelaparan
Di belahan dunia lain ratusan juta orang bertarung melawan kegemukan.

Disaat jutaan orang menghadapi gizi buruk
Di tempat lain orang berobat akibat kelebihan makan

Disaat orang berjuang untuk mencari sesuap makanan
Di ujung dunia lain orang mengumpulkan makanan untuk memecahkan rekor-dunia

Di waktu orang menanam untuk kehidupan
Di lain waktu orang menebang untuk kesenangan

Dan saat di berbagai belahan dunia (Palestina, Afghan, Chechnya, Pattani, Irak, dll), memperjuangkan da’wah dengan taruhan nyawa.
Ternyata di sini ada yang menyia – nyiakannya ?
Tragis…
Menyedihkan memang…
Seperti judul buku,
Robohnya Da’wah di Tangan Da’i

Sebuah keseimbangankah . . . ?
Sebagaimana ada siang ada malam?

Akankah Rohis Polines hanya akan menjadi sejarah, bahwa dulu PERNAH ADA yang namanya UKM Rohis Polines ? ? ?

Akankah kita hanya menjadi saksi bisu kemunduran ini?
Atau bahkan kita menjadi sumber kehancuran da’wah ini?
Sehingga menggoreskan tinta sejarah bahwa UKM Rohis DITIADAKAN karena kita?

Menjadi tanda tanya besar bagi kita semua
Dan hanya kita yang bisa menjawabnya
Kemanakah kita selama ini?
Dimanakah kita selama ini?

Haruskah tetap seperti ini?

Sebuah PR besar bagi kita
Dan hanya kita yang bisa menuntaskannya
Pilihan ada di tangan kita
BERGERAK ATAU MATI


Darul Hikmah, 03 Agustus 2007
Dalam Keterasingan dan Kebimbangan

Wednesday, August 1, 2007

DIKALA RAGU AKAN DIRINYA...

Bagi yang sedang bimbang oleh sang kekasih, nih ada do'a yang bagus untuk diamalkan. Selamat Mengamalkan ya....:)

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang dhaif ini

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka karuniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan karuniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin... Ya Rabbal 'Alamin


Darul Hikmah, 01 Agustus 2007
Masih Dalam Kebimbangan
Dalam Keterpurukan Langkah

SURAT UNTUK CINTAKU


Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku

Tak terasa sudah hampir dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebagian prasangka adalah suatu kesalahan, mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa yang kamu timbulkan terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin BERPACARAN denganmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku…

Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu... aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA.

Wassalam


(Disadur Dari Sebuah Web)

Darul Hikmah, 01 Agustus 2007
Tuk Semua Ikhwan Yang Sedang Merasakannya
Jagalah "RASA" Itu Dengan Baik
Jangan Sampai Kita Binasa Karenanya

TERUNTUK SEORANG IKHW@N SHOLEH...

(Sebuah permohonan dari seorang ukhti untuk seorang ikhwan)


Ku tulis bait ini dalam rangkaian malamku yang panjang
Ku ungkap getar ini dalam ragu yang tertahan...
Untukmu seorang ikhwan yang tak juga kunjung datang...
Aku bersama semua baktiku yang tertunda
Bersama sepotong cinta yang tak akan sempurna
Bila tidak juga kau ada...

Untuk calon suamiku yang tidak ku tahu ada dimana
Kelak bila kau datang izinkan bakti dan taatku melebur bersama senyummu..
Iznkan cinta dan kehormatanku terpatri kuat untuk menjaga kehormatanmu...
Untuk calon suamiku yang sedang berdakwah entah dimana
Ketahuilah...
Bahwa aku wanita asing bagimu
Nanti terangkanlah apa - apa yang tidak kumengerti darimu
Terangkanlah apa-apa yang tidak tersukai darimu
Agar istri solehah menjadi mahkota mendampingimu...

Untuk calon suamiku yang masih sibuk dalam kelelahanmu...
Ketahuilah bahwa aku selalu menunggumu..
Menunggu menjadi kendaraan yang nyaman buatmu..
Menjadi rumah yang lapang untukmu...
Menjadi penunjuk jalan yang lurus untukmu...
Menjadi penyejuk hatimu...

Dan wahai engkau calon pengobat cintaku...
Bila nanti Allah rizkikan engkau untukku
Maka semoga aku juga menjadi rizki mulia untukmu...
Bersama menyempurnakan hati dalam Mahabbah-Nya..
Menyemarakan dakwah dengan para Jundi - jundi Allah...

Aku bersama kesederhanaan yang terbalut takwamu...
Bersama menggapai perjuangan ini...
Yang karenamu Allah semakin sayang padaku...
Pada dakwahku...


Teruntuk "Rizki" yang kan segera datang


Darul Hikmah, 30 July 2007
Arjuna Ini Akan Segera Datang

PUDARNYA PESONA CLEOPATRA

Toek para suami, Yakinlah... istrimu selalu berusaha membahagiakanmu...

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" , ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab "tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', "kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?"

"Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. "Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". "Biasanya dikerokin" jawabku lirih. "Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. "Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. "Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba "Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

"Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. "Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. "Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!", panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. "Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. "Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!" Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. "Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. "Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya "Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. "Dengan orang mana?. "Orang Jawa". "Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". "Kenapa dengan Bapak?" "Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". "Bagaimana itu bisa terjadi?".

"Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.

Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. "Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba" tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa "Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

"Raihana¯...istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya" . "Ada apa dengan dia". "Dia telah tiada". "Ibu berkata apa!". " Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya" .Hatiku bergetar hebat. "kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". "Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ........

Sumber :
Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)

UNTUK CALON ISTRIKU III: "SEBUAH HARAPAN DAN DOA UNTUKMU"

Assalamu’alaikum Wr… Wb…

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat
Dan mendo'akanmu agar kau selalu sehat, bahagia,
dan mendapat yang terbaik dari-Nya
Aku tak pernah berharap, kau 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup
Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini
Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi
Akulah orang yang 'kan selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

Ukhtiku...
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu,
hanya bisa merindukanmu
Dan tetaplah berharap, terus berharap
Berharap aku 'kan segera datang
Jangan pernah berhenti berharap,
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup

Bila kau jadi istriku kelak,
jangan pernah berhenti memilikiku
dan mencintaiku hingga ujung waktu
Tunjukkan padaku kau 'kan selalu mencintaiku
Hanya engkau yang aku harap
Telah lama kuharap hadirmu di sini
Meski sulit, harus kudapatkan
Jika tidak kudapat di dunia...
'kan kukejar sang Ainul Mardhiyah yang menanti di surga

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat,
aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu
Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku,
pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku
Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti...
Apa yang akan ku hadapi
Dan apa yang harus kucari dalam hidup

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu bijaksana
Aku goreskan syair sederhana ini,
untuk dirimu yang selalu mempesona
Memahamiku dan mencintaiku apa adanya
Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku dan bagimu
Semoga...

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
......

(Dewi Khayalan - Daun Band)

Ya Allah...
ringankanlah kerinduan yang mendera
kupanjatkan sepotong doa setiap waktu,
karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku

Ya Allah...
ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini
ringankan langkah kami
beri kami kekuatan dan kemampuan
tuk melengkapkan setengah dien ini,
mengikuti sunnah RasulMu
jangan biarkan hati-hati kami
terus berkelana tak berpenghujung
yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan
yang telah Engkau berikan
Aamiin...

Wassalamu'alaikum Wr... Wb...

(Disadur Dari Sebuah Millis)


Darul Hikmah, 29 July 2007
Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya, Fillah...

UNTUK CALON ISTRIKU II: "TETAP SABAR MENUNGGU YA… :)"

Ukhtiku...
Di mana pun engkau sekarang, janganlah gundah, janganlah gelisah
Telah kulihat wajahmu dan aku mengerti,
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku di dalam hari-harimu
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu
Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang
Karena jalan ini masih panjang
Banyak hal yang menghadang
Hatiku pun melagu dalam nada angan
Seolah sedetik tiada tersisakan
Resah hati tak mampu kuhindarkan
Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan
Karang asaku tiada 'kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan
Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan
Keputusan besar untuk datang kepadamu

Ukhtiku...
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada-Nya, Yang Maha Pemberi Cinta,
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir
Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu
Karena kecantikan hati dan iman yang dicari
Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu
Karena aura keimananlah yang utama
Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga,
merasuk dan menembus relung jiwa

Wahai perhiasan terindah...
Hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu.
Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat,
tapi ia bisa hancur dalam sedetik.
Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun,
tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil
Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup
Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu
Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu
Pulanglah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya
Jika memang kau tak sempat bertemu diriku,
sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci
Dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya

Ukhtiku...
Skenario Allah adalah skenario terbaik
Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita
Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang,
merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya
Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita

Ukhtiku...
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah 'kan menjelang jua
Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan
Apa kabarkah kau disana?
Lelahkah kau menungguku berkelana?
Lelahkah menungguku kau disana?
Bisa bertahankah kau disana?
Tetap bertahanlah kau disana...
Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu
Bila waktu itu telah tiba,
kenakanlah mahkota itu,
kenakanlah gaun indah itu...
Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...

Ukhtiku...
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir
Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera,
kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang
Cinta membuat hati terasa terpotong-potong
Jika di sana ada bintang yang menghilang,
mataku berpendar mencari bintang yang datang

Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang..
nanti kubawa kau pergi, ke surga abadi
Kini belumlah saatnya, aku membalas cintamu
Nantikanku di batas waktu

Tetap Sabar Menunggu Ya…:)

UNTUK CALON ISTRIKU I: "MASIHKAH MENUNGGUKU?"

Assalammu'alaikum Wr... Wb...

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care...
Allah selalu bersama kita

Ukhtiku...
Masihkah menungguku...?

Hm... menunggu, menanti atau whatever-lah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?!
Menunggu...
Hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang 'istimewa'
Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa
Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu
Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan-Nya,
melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu,
atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati
Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong
Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari 'dunia lain' masuk ke jiwa

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu
Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih
Ngejomblo itu nikmat!
Ups, itu yang sedang kurasakan

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif
Mumpung waktu kita masih banyak luang
Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga
Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak
Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak

Karenanya wahai bidadari dunia...
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang
Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda
Tapi masih banyak PR yang belum kita selesaikan
Temen-temen di kampus juga masih menunggu dakwah kita

Begitu juga persoalan yang mendera masyarakat dan bangsa ini kian banyak dan kian rumit
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini
Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit
Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan
"bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan"
Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik
Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri
Dan ingatlah bahwa dedikasi adalah dengan kita memberi bukan menerima

Ukhtiku…
Masihkah menungguku…?

> Nyambung ke Untuk Calon Istriku II

Thursday, July 26, 2007

YAA ALLOH Part II: "KUINGIN MENJADI SEORANG LELAKI..."

> Lanjutan Yaa Alloh Part I
……………………………………………………………………………………………………………….

Dan aku juga meminta Yaa..Allah..

Buatlah aku menjadi seorang laki-laki yang dapat membuat seorang wanita itu bangga.

Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintai-Mu, sehingga aku dapat mencintainya dengan cinta-Mu, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah sifat-Mu yang kuat sehingga kekuatanku datang dari-Mu bukan dari luar diriku.

Berikan aku tangan-Mu sehingga aku selalu berdoa untuknya.

Berikanlah aku penglihatan- Mu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.

Berikanlah aku mulut-Mu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaan- Mu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan "Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat
dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Engkau tentukan.

Amien.



Tidak mudah untuk mendapatkan yang 'sempurna'. Tapi Alloh memberi kesempatan kita untuk ikhtiar menjadikan diri kita bersama pasangan kita menjadi sempurna.

Salah satu kesempurnaan adalah memaafkan kekurangan pasangan kita dan mensyukuri setiap kelebihan pasangan kita dan jangan pernah menuntut menjadikan pasangan kita seperti apa yang kita mau, yang disyariatkan adalah saling menasehati dan mendidik secara baik.




Ar Ruhul Jadid, 26 July 2007
Bidadari Itu Tetap Setia Menungguku

YAA ALLOH Part I: "KUMINTA SEORANG WANITA...."

Yaa Allah...

Aku berdoa...meminta kepada Engkau untuk seorang wanita, yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seorang wanita yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu.

Seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau

Seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu.

Seorang wanita yang mempunyai hati sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk mentauladani sifat-sifat Agung-Mu.

Seorang wanita yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seorang wanita yang mempunyai hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas.

Seorang wanita yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormatiku

Seorang wanita yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah

Seorang wanita yang mencintaiku bukan karena lahiriahku tetapi karena hatiku.

Seorang wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi

Seorang wanita yang dapat membuatku merasa sebagai seorang laki-laki ketika di sebelahnya.

Seorang wanita yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang wanita yang membutuhkan do’aku untuk kehidupannya

Seorang wanita yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya

Seorang wanita yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

…………………………………………………………………………………………………..

> Nyambung ke Yaa Alloh Part II


Ar Ruhul Jadid, 26 July 2007
Bidadari Itu Sudah Menungguku

"LINGKARAN KECILKU Episode 2"

> Lanjutan lingkaran kecilku episode 1

…………………………………………………………………………………………………………………

Kembali anganku melayang jauh menembus batas waktu yang telah kulalui. Memutar kembali memori otakku yang telah menyimpan berjuta kenangan indah tentang tarbiyah. Tentang lingkaran kecilku yang menjadi tempat awal aku menempa diri. Tempat mengasah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ada luapan perasaan yang tak mampu kuredam. Ya mengingat betapa indahnya perjalanan yang telah aku lalui. Meski baru setapak langkah kaki kuayunkan, meski baru sejengkal tanah kutapaki. Karena aku baru memulai perjalanan dakwah yang sesungguhnya. Tapi lingkaran kecilku senantiasa membekas. Membekas dalam perjalanan dakwah yang baru aku mulai dan akan terus kulalui. Lingkaran kecilku telah membulat menyatu dalam tubuhku. Menyatu dalam setiap sikap, tingkah laku dan aktivitas kehidupanku. Mengapa? Karena lingkaran kecilku telah mengajarkanku banyak hal. Karena lingkaran kecilku telah membimbingku dan menunjukkanku ke jalan-Nya. Karena lingkaran kecilku telah membinaku untuk menjadi pribadi muslim yang sholeh. Dan insya Alloh, semua itu akan terus dan terus berjalan.

Mengingat kembali betapa banyak yang telah kulalui bersama lingkaran kecilku, aku masih terus memutar memori otakku. Saat-saat indah ketika aku berusaha mendapatkan banyak hal tentang hakekat hidupku sebagai seorang muslim. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang faham, aku memaknainya dengan berusaha mengerti Islam dan segala sesuatu yang aku jalani atas namanya. Kebanggaanku hanyalah karena kemuliaan dan kejayaannya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ikhlas, aku mengartikannya dengan selalu berusaha memotivasi diriku untuk terus berkarya dan memberikan setiap inchi tubuhku hanya dan hanya untukNya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang amal, maka aku menerjemahkannya dengan berusaha memberikan kontribusi terbaikku demi kejayaan ummat yang (semoga) lebih kucintai dari diriku ini. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang jihad, akupun berusaha bersungguh-sungguh dalam setiap medan perjuangan yang harus aku lalui. Tak kupedulikan ocehan durjana yang selalu merayuku untuk mengikutinya. Tidak juga letih tubuh ini yang selalu menggodaku untuk berhenti. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taat, maka tiada lain yang menjadi pedomanku selain Al Qur’an dan As Sunnah. Tandzim menjadi aplikasi ketaatanku pada orang-orang bertaqwa yang tertata demi kelurusan shaff barisan perjuangan suci tuk gapai sebuah cita. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang taddhiyah, maka akupun berusaha memberikan segala yang kupunya. Aku yakin, segala yang di sisiku hanyalah sesuatu yang fana, dan akan mulia ketika kuserahkan semuanya kepada Robb Semesta. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsabat, maka aku mengamalkannya dengan berusaha tegar terhadap segala aral menghadang. Aku yakin, tiada perjuangan yang tidak “menyakitkan”. Dan hanya istiqomah-lah, sikap terbaik untuk selalu siap menghadapinya. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tajarrud, maka aku ingin semua titik potensiku kupersembahkan untuk da’wah ini. Aku yakin bahwa sesungguhnya aku adalah da’i sebelum predikat apapun yang melekat pada diriku. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang tsiqoh, maka aku berusaha mengesampingkan setiap prasangka yang senantiasa menusuk pikiranku. Kubalut sikap percayaku dengan iman suci penuh keyakinan pada Allah, Rasul, Islam, dan qiyadah da’wah yang bertaqwa. Ketika lingkaran kecilku mengajariku tentang ukhuwah, akupun belajar untuk berbagi dengan saudara-saudaraku dan mengikat hati dalam tautan cinta untuk taat kepadaNya. Semoga Allah menghimpun hati para da’i dalam cinta-Nya, yang berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalanNya, dan saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.

Itulah lingkaran kecilku. Lingkaran yang selalu memberi inspirasi bagiku. Lingkaran yang tak pernah berhenti membawaku berkelana menyusuri lorong-lorong gelap kehidupan menuju cahaya Alloh yang selalu menerangi kehidupanku. Lingkaran yang telah menempatkanku pada komunitas orang-orang sholeh yang berkomitmen untuk memperbaiki diri dan berkontribusi dalam setiap kebaikan. Lingkaran yang telah menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan hidupku, Muhammad sebagai panutan langkahku, Qur’an menjadi panduan gerakku, jihad dan syahid tak ayal menjadi jalan dan cita tertinggiku. Semoga Alloh merahmati orang-orang yang berhimpun dalam kecintaan kepadaNya, dan menjadikan diri ini bagian dari khalifah para penghuni surga abadiNya.

Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala diinika wa tho’atika
Yaa muqollibal quluub
Tsabbit quluubana ‘ala da’watika fii sabiilika





Ar Ruhul Jadid, 25 July 2007
Di Pengasingan, Masih Dalam Perjuangan

"LINGKARAN KECILKU Episode 1"

Sejenak kuajak angan ini menelusuri jejak petualangan selama kurang lebih tiga tahun di kampus ini. Ribuan prasasti yang terukir indah berdiri kokoh di sepanjang jalan mengabadikan setiap langkahku dalam eksotisme gerak perjuangan yang kulalui. Ingin aku memungut prasasti-prasasti itu dan melukiskannya di sini, tapi entah mengapa otakku mempengaruhi jemariku sehingga kelu untuk melakukannya. Seakan ada satu kekuatan yang menyuruhku untuk membiarkan mereka menjadi kenangan manis yang hanya aku yang bisa menikmatinya. Akupun berusaha mengajak anganku untuk kembali bergerak menyusuri jalan yang tak mampu lagi terekam oleh minimnya kapasitas memoriku. Sampai akhirnya di penghujung jalan anganku menerawang jauh menembus batas, terlihat sebuah tonggak yang merupakan pangkal dari semua petualangan selama ini. Sebuah tonggak yang aku ingat selalu menjadi awal pijakan kakiku dalam melangkah. Tonggak kokoh dengan warna keemasan yang disebut : “Tarbiyah”.

Terus terang, aku selalu kesulitan memaknai kata ‘tarbiyah’ karena ia lebih dari sekedar ‘pendidikan’ seperti arti harfiahnya. Seni Membentuk Manusia (Fannu tasykiilil insaan), mungkin itu kata yang tepat untuk mengartikan tarbiyah sebagaimana ditulis oleh Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah. Tidak berlebihan memang. Pembentukan akal, hati, dan badan manusia bersama tarbiyah semakin hari semakin menampakkan hasil yang cukup menggembirakan meskipun bukan berarti tidak ada yang harus diperbaiki bersama. Termasuk tarbiyah di Kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang aku rasakan. Sebuah usaha untuk membentuk kader militan yang diharapkan kontribusinya dalam dakwah di negeri ini. Meskipun banyak komentar miring bermunculan yang menyebut kader Polines adalah kader karbitan, kader akselerasi, kader premature, atau kader yang terlalu jumud, tapi toh kader-kader karbitan yang premature dan jumud itu –dengan izin Alloh- akan membuktikan diri mereka sebagai ujung tombak da’wah di pelosok nusantara. Yah insya Alloh.

Tarbiyahku dimulai dari sebuah lingkaran kecil yang muncul tiap pekan sekali dengan berbagai bentuk keistimewaan yang selalu silih berganti. Tapi aku juga mengenal tarbiyah jauh lebih dari sekedar lingkaran kecil itu. Tarbiyah bagiku adalah gabungan dari madah yang kudapat, dan aplikasi yang coba kuterapkan dalam keseharianku. Tapi tetap saja, lingkaran kecil menjadi awal dari setiap langkahku. Lingkaran kecil bagiku adalah stimulus yang “memaksaku” untuk terus bergerak seiring kerasnya persaingan pembangunan peradaban umat ini. Lingkaran kecil bagiku adalah imun yang melindungiku dari virus-virus kemaksiatan yang selalu siap menjerumuskanku ke dalam lubang kesesatan yang -kadang- aku sendiri tak tahu di mana jalan kesesatan itu. Lingkaran kecil bagiku adalah sumber perbekalan yang memberiku kekuatan untuk terus bertahan mengarungi medan perjuangan yang sering kali terasa amat melelahkan. Yup, lingkaran kecilku telah memberiku banyak pelajaran tentang arti kehidupan ini. Dan meskipun dengan tertatih, aku selalu ingin berusaha membenamkan setiap pelajaran itu dalam setiap jejak kehidupanku. Seberat apa pun, sesulit apa pun, sepanjang apa pun, goresan tabiyah akan selalu tertulis, terpatri dan tertancap dalam setiap langkahku. Langkah di jalan dakwah untuk menyatu dengan barisan para mujahid yang berjuang menegakkan izzah Islam. Dan diri ini senantiasa berharap menjadi bagian dari kemenangan dakwah Islam.

Meski tarbiyah bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Dan hanya kepada Alloh-lah kita kembali. Semoga tetap dalam naungan tarbiyah Islamiyah. Semoga tetap istiqomah di jalan-Nya. Semoga tetap bertahan dalam menapaki kerasnya perjuangan dakwah. Dan yang paling aku harapkan……… semoga menjadi hambanya yang akan mencium wanginya surga.

………………………………………………………………………………………………………………………

(Inspirasi dari Seorang Ikhwah)

> Bersambung ke lingkaran kecilku episode 2



Ar Ruhul Jadid, 24 July 2007
Berjuang Menghadapi Kelulusan
Di saat Hari Lahirku

Tuesday, July 24, 2007

SEBUAH KEINGINAN

Teman, pernahkan kita membayangkan, suatu ketika di sepertiga malam terakhir, kita bermimpi ada bidadari yang mengecup kening kita? Dan ketika kita terbangun, bidadari itu ada di hadapan kita, seorang wanita nan cantik dengan balutan mukena. Terdengar suara lembutnya, "Suamiku, sholat dulu yuk...?"

Atau teman, pernahkan kita membayangkan, rumah mungil kita selalu ramai setiap malam? Ruang tengah itu dipenuhi suara nyaring si abang yang sedang menghafal juz Amma, bersahutan dengan adiknya dengan ejaan "a ba ta"-nya dan diselingi jeritan tangis si bungsu yang terbangun ingin bergabung dengan kakak-kakaknya. Wajah mereka menjadi kerinduan selalu bagi kita. Keceriaan mereka menjadi penyemangat luar biasa bagi aktivitas kita. Dan harapan mereka menjadi harapan besar bagi masa depan kita...

Dan tahukah teman, siapa orang yang akan mendapatkannya? Dialah yang selalu istiqomah di jalanNya. Dan tentu saja yang menggenapkan dien, sesuai manhaj Kitabulloh, dan sunnah Rosululloh saw. Tidakkah kita ingin jadi bagian dari mereka?

Darul Hikmah, 23 July 2007
Inspirasi dari Salim A Fillah
One Day Before My Birthday


(Suatu saat nanti, entah berapa tahun lagi, 5 tahun lagi, 4 tahun lagi, 3 tahun lagi, atau bahkan besok? Aku pasti akan melaksanakannya, demi kesempurnaan dien ini. Wallohu'alam bis showwab).

"TENTANG WANITA"

Wanita....

Dia mempunyai kekuatan mempesona laki-laki

Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki

Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri

Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit

Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan

Dia berkorban demi orang yang dicintainya

Mampu berdiri melawan ketidakadilan

Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik

Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya

Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat

Cintanya tanpa syarat

Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang

Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa

Dia begitu bahagia mendengar kelahiran

Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian

Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup

Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka

Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:

(KADANG) DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA.....

Setangkai mawar untuk kalian, para wanita...



salam hangat dari kami,


HAMAS


(disadur dari sebuah milis...)